Apakah Herbal Memiliki Efek Samping?

Dipublikasikan: 1 Agustus 2021

Pernahkan Anda setelah minum herbal malah muncul keluhan sakit yang lebih kuat, atau sakit pindah-pindah ke bagian tubuh lainnya, atau tubuh Anda jadi ngga enak badan, mual, pusing, diare? Apakah ini efek samping herbal?

Sebelum menjawab hal tersebut ada baiknya kita pahami dulu apa itu efek samping obat.

Efek samping obat adalah semua efek yang tidak dikehendaki atau tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang membahayakan atau merugikan pasien akibat penggunaan obat.

Efek samping untuk obat kimia, biasanya telah tercantum dalam kemasan obat tersebut, informasi tentang efek samping ini didapatkan ketika obat tersebut dilakukan uji klinis terhadap populasi sukarelawan yang ikut dalam uji klinis yang diperoleh dari pengamatan dan pencatatan respon obat terhadap tubuh responden. Sehingga reaksi atau efek yang tidak dikehendaki selama uji klinis ini dicatat sebagai reaksi efek samping.

Oleh karena itu pengunaan obat kimia harus benar-benar diawasi dan dilakukan dengan petunjuk tenaga kesehatan seperti dokter atau farmasi, terutama untuk obat-obat yang tergolong obat bebas terbatas dan obat keras yang harus menggunakan resep dokter.

Bagaimana dengan efek samping herbal?

Seperti kita ketahui bahwa kebanyakan herbal belum dilakukan uji klinis, sehingga pencatatan terhadap efek sampingnya belum dilakukan. Laporan terhadap efek samping ketika menggunakan herbal tersebut juga tidak ada yang melaporkan atau melakukan pencatatan, sehingga dalam buku monografi herbal umumnya tidak ada informasi resmi tentang efek samping herbal yang tulis dengan kalimat “belum ada laporan tentang efek samping atau not reported”. Namun begitu ada juga herbal yang telah memiliki catatan tentang efek sampingnya, walaupun belum dilakukan uji klinis. Biasanya ketika penggunaan herbal tersebut sedang massif, peneliti inisiatif melakukan pengamatan terhadap penggunaan herbal dimasyarakat dan mulai melakukan pencatatan. Sehingga herbal-herbal yang penggunaannya sudah sangat luas, walaupun belum dilakukan uji klinis terdapat catatan mengenai laporan adanya efek samping.

Untuk memastikan dengan pasti bahwa efek yang tidak dikehendaki atau merugikan ini muncul setelah Anda konsumsi herbal, maka perlu dilakukan penelusuran, misalnya : apakah ada obat lain yang dikonsumsi, apakah dosis herbalnya sesuai takaran, apakah jenis herbalnya sesuai dengan penyakit, apakah ada makanan tertentu yang dimakan yang memicu efek yang merugikan, apakah cara konsumsinya sudah benar misal sebelum atau sesudah makan, apakah konsumsi herbal sudah sesuai rute cara pemberian obat, misalnya bentuk cairan obat dalam diminum melalui mulult, bukan diteteskan ke ronga-rongat tubuh, atau bentuk sediaan padat seperti kapsul, tablet, pil diminum menggunakan air yang cukup dan bukan di masukan ke organ-organ tertentu tubuh Anda; apakah herbal ini tergolong baru di Indonesia dan belum banyak yang menggunakannya, misalnya herbal dari negara lain yang secara empiris nenek moyang kita belum pernah mengkonsumsinya, atau ketika konsumsi herbal apakah Anda sedang kekurangn nutrisi, sedang lemah, baru sembuh dari sakit yang menyebabkan Anda tidak bisa minum herbal terlalu banyak atau dosis perlu dikurangi.

Hal-hal tersebut perlu dilakukan penelusuran yang cermat, karena apabila herbalnya termasuk kategori jamu, maka sebenarnya sudah teruji secara empiris berkhasiat dalam tubuh apabila dikonsumsi sesuai dosis anjuran dan rute cara pemberian dan tanpa laporan efek samping. Karena badan POM tidak akan menyetujui apabila pendaftaran herbal kategori jamu belum memiliki data empiris, dan apabila ada catatan efek samping, Badan POM mewajibkan pemilik produk mencantumkan efek samping tersebut pada kemasan produknya sehingga masyarakat mengetahuinya.

Berdasarkan hal tersebut, khusus tentang catatan efek samping, memang herbal memiliki lebih sedikit catatan atau laporan tentang efek sampingnya apabila dikonsumsi sesuai dosiss, dibandingkan obat kimia. Namun untuk lebih amannya, sebaiknya Anda mempelajari herbal apa yang Anda konsumsi dan pelajari apakah ada efek sampingnya baik dari kemasan produk maupun dari buku herbal seperti Buku Alam Sumber Kesehatan karya Ibu Mooeyati Sedibyo, Buku Formularium Obat Herbal Asli Indonesia terbitan Kemenkes, atau buku-buku yang di keluarkan oleh badan POM.

Dikarenakan sedikitnya catatan atau laporan tentang efek samping herbal, ada sebagian herbalis berpendapat bahwa munculnya reaksi yang tidak diinginkan seperti mual, pusing, nyeri, diare atau hal yang tidak mengenakan lainnya dianggap sebagai sebuah reaksi tanda-tanda herbal sedang bekerja atau sedang mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Istilah yang diperkenalkan yaitu detoks atau DOC (Direction of Cure), sebagian lainnya memberi istilah dengan nama reaksi pengobatan (Healing Crisis), dimana ketika reaksi ini muncul, maka dosis herbal perlu diturunkan sampai reaksi ini berkurang dan minum lebih banyak air.

Terlepas apakah ini reaksi efek samping atau healing crisis, Anda sendiri yang menilai dan menentukan apakah pengobatan dengan herbal tersebut berjalan ke arah perbaikan kesehatan Anda tidak. Karena biar bagaimanapun, produk jamu atau herbal yang telah memiliki izin edar dari Badan POM telah dilakukan uji mutu, keamanan dan khasiat pada saat pengajuan.

Apakah Herbal Memiliki Efek Samping? - 1

Bagaimana mencegah munculnya efek samping obat herbal?

Untuk mencegah terjadinya efek samping obat herbal maupun obat kimia, ada beberapa hal yang perlu Anda cermati yaitu:

1. Baca dosis dan aturan pakai penggunaan obat/herbal sesuai dengan yang tertera di kemasan atau yang diresepkan oleh dokter/terapis

2. Pergunakan obat/herbal sesuai dengan indikasi yang jelas dan tepat sesuai yang tertera di leafleat atau yang diresepkan oleh dokter/terapis

3. Berikan perhatian khusus terhadap penggunaan dan dosis obat/herbal pada balita, pasien usia lanjut dan pasien dengan penyakit ginjal atau hati.

4. Perhatikan dan catat riwayat alergi akhibat penggunaan obat/herbal

5. Beritahukan kepada dokter/terapis apabila memiliki kondisi khusus seperti ibu hamil, ibu menyusui, alergi terhadap obat tertentu, memiliki riwayat diabetes, penyakit ginjal atau liver, sedang meminum obat lain atau suplemen herbal.

6. Hindari penggunaan berbagai jenis obat dan kombinasi sekaligus obat dan herbal

7. Mintalah dokter/terapis mengevaluasi penggunaan obat/herbal dalam jangka panjang.

8. Jamu yang berefek ke hati dan ginjal bisa jadi jamu yang mengandung BKO (Bahan Kimia Obat), Mikrobiologinya buruk, banyak mengandung logam berat.

Apapun pilihan pengobatan Anda, menjadi lebih berhati-hati dengan obat dan cara pengobatan Anda menjadi hal yang penting agar arah pengobatan sesuai dengan yang Anda harapkan.

Salam Sehat.

Bagikan ke teman dan keluarga: 

Pertanyaan yang masuk di redaksi konsultasi Halo Herbal

Ingin konsultasi dengan ahli herbal? dan Lihat pertanyaan lainnya →
Komentar dan Balasan Anda tentang artikel ini sangat berarti untuk kami agar makin berkembang dan memperbaiki tulisan-tulisan kami di kemudian hari.

Kolom Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *